8/01/2017

Larung | Tiga Babak Kematian

Wow, ketika memulai membaca buku karangan Ayu Utami ini gue berasa megap-megap. Bagian awal dari cerita (yang katanya) lanjutan dari Novel Saman begitu amat terasa padat. Imajinasi yang teramat liar dari sang penulis tergambar jelas di bagian awal kisah Larung. Tak seperti kisah Saman yang baru kita tahu penggambaran si tokoh utama di pertengahan cerita. Di novel ini kita langsung diberitahu kalau Larung mendapat tugas yang teramat berat. Dia mendapat permintaan secara tidak langsung dari ibunya untuk membunuh neneknya, meskipun sebenarnya Larung pun ingin melihat neneknya itu untuk mati saja.


BABAK I
Sebenarnya Larung tak ingin melakukannya. Membunuh seseorang adalah dosa yang teramat besar. Larung menyadari hal itu. Namun, neneknya yang sudah terlampau tua, bahkan kematian seakan enggan menghampirinya. Mendorong Larung untuk pergi mencari cara untuk menarik semua kekuatan yang menempel pada neneknya itu. Bahasa kerennya euthanasia (membunuh tanpa menyakiti) begitulah yang terjadi jika menyimpan ilmu hitam. Malaikat maut pun tak sudi melirik.

Menempuh perjalanan yang panjang, bahkan sampai menyogok tukang ojek dengan jamur yang tumbuh di kotoran kuda. Ya, kabarnya jamur yang tumbuh di kotoran kuda lebih memabukkan dibanding yang tumbuh di kotoran sapi atau kerbau. Larung pun akhirnya mendapatkan enam cupu yang nanti harus ditaruh sejajar di tubuh neneknya. Bertarung dengan perasaannya sendiri dan juga tatapan penuh arti dari neneknya. Larung pun akhirnya berhasil mengantarkan kepergian wanita tua itu. Yang tubuhnya sudah membusuk entah dari kapan. Sang nenek pun mati.

BABAK II
Kisah cinta Laila yang begitu menggebu kepada Sihar, menemukan muaranya di buku kedua ini. Tak begitu jelas apakah Laila dan Sihar akhirnya saling memadu kasih atau tidak. Tak seperti di buku sebelumnya dimana kita masih mendapatkan secara detail bagaimana dalamnya perasaan Laila kepada Sihar. Bahkan kita juga mendapatkan penjelasan kalau Laila dan Sihar sempat berdua dalam keheningan sebuah ruangan. Meskipun Sihar tak berani melakukannya kepada Laila. Padahal Laila tak begitu mengharapkannya tapi menginginkannya.

Justru di buku ini kita dipaparkan sebuah kenyataan yang sungguh ironi. Laila jatuh ke dalam pelukan Shakuntala sang penari. Ya, Tala tak mau disebut biseks, ia hanya menyukai keduanya. Hasrat Laila kepada Tala menjadi pertanda akan matinya moralitas. Tapi, apalah arti kata moral bila dihadapkan dengan dalamnya rasa yang berhulu di hati? Laila yang digambarkan alim dan taat beragama tersandung oleh hasrat terpendamnya.

BABAK III
Mereka pun akhirnya mati. Tak bisa dipastikan juga sih, soalnya di akhir kisah kita hanya diberitahu kalau Larung dan juga Saman akhirnya tertangkap. Larung ynag misterius namun mencintai negerinya dengan caranya sendiri harus berakhir di tangan seseorang yang masih satu negeri dengan dirinya. Pun, demikian yang dialami Saman. Ada kritik yang tak tertulis ketika membaca kedua novel karya Ayu Utami ini. Jika benar-benar memperhatikan, musuh dari kedua tokoh yang namanya dijadikan judul adalah orang sebangsanya sendiri.

Saman dianggap berbahaya ketika berhasil mengumpulkn sejumlah warga yang 'hanya' ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Musuhnya? bukan bangsa asing melainkan mereka yang mampu berbicara dengan bahasa yang sama. Larung, sikapnya yang misterius dianggap berbahaya  oleh orang yang hendak menyelamatkan hidupnya oleh dirinya. Sebuah ironi yang bisa saja sungguh terjadi di negeri ini.  


EmoticonEmoticon