5/28/2017

Saman | Antara Kisah Miris Rakyat Bawah Dan Hasrat Yang Terpendam

Satu kata setelah gue selesai membaca novel ini, "BERANI". Dibalik kontroversialnya Ayu Utami yang --sepertinya senang-- mengumbar aroma seksualitas. Cerita Saman memang patut diapresiasi dengan sangat baik. Terutama tentang risetnya yang cukup mendalam. Dari soal pengeboran minyak, permasalahan perkebunan karet (bahkan sampai me-riset penyakit pohon karet dan juga cara mengatasinya) hingga penggambaran kota New York meskipun tak terlalu detail.


Di awal kisah gue sempat bingung. Karena, tak sedikit pun kata 'Saman' muncul. Gue kira akan membaca sebuah kisah dilema Laila yang begitu mencintai Sihar. Cintanya yang tak terbendung, sehingga tak perduli Sihar sudah beristri. Yang Laila inginkan hanya bersamanya, tak perduli lelaki itu ingin melakukan apa dengan dirinya. Namun, entah dilema atau apa, Sihar seperti tak mampu melakukan apa yang diinginkan hasratnya. Sungguh, membuat gemas membaca kisah mereka berdua.

Cerita pun berpindah, Sihar yang merasa perlu untuk menuntut keadilan anak buahnya yang meninggal karena kebodohan si anak pemilik pengeboran minyak itu. Laila pun dengan senang hati mengantarkan Sihar bertemu dengan Saman alias Athanasius Wisanggeni alias Romo Wis. Ya, alur cerita menggunakan teknik bolak-balik (ini istilah ngasal gue, hehe) sesaat kita diajak untuk Flash-back lalu kemudian kembali ke alur seharusnya. 

Laila yang diceritakan beragama islam, dahulu, ketika masa sekolah, begitu amat mengagumi sosok Wisanggeni. Namun, karena perbedaan agama kisah mereka tak berlanjut. Wisanggeni pun memilih menjadi seorang Pastor. Ketika sampai masa untuk mengabdi, Romo Wis meminta dengan sangat untuk bisa dikirim ke tempat lahirnya dahulu. Ada kisah yang belum usai antara dirinya dengan kampung halamannya itu. Sebuah kisah yang teramat miris juga mistis. 

Selama menjalani masa tugasnya, Romo Wis seakan ditakdirkan untuk bertemu dengan Upi si perempuan yang mengidap gangguan kejiwaan. Baru awal pertemuan saja Romo Wis seakan hendak diperkosa oleh bayangan gaib dirinya. Namun, jiwa Romo Wis yang masih murni justru menangkap hal sebaliknya. Saat masyarakat kampung ingin membiarkan perempuan itu mati saja di sebuah lubang. Justru dengan berani Romo Wis menyelamatkannya.  

Dan berawal dari rasa ibanya kepada Upi. Romo Wis benar-benar mengabdi untuk kemajuan desa Prabumulih. Masyarakat kampung begitu amat mencintanya. Namun, seperti yang kita tahu bersama. Kekuasaan seakan menjadi momok bagi rakyat bawah yang ingin mandiri. Perkebunan karet yang sudah mulai menampakkan hasilnya digusur dengan paksa oleh pengusaha minyak kelapa sawit. Bahkan dengan teganya menghancurkan pembangkit listrik kecil-kecilan milik warga. 

Semenjak itulah Romo Wis mengubah namanya menjadi Saman. Kini, dengan nama baru, Wisanggeni alias Saman memiliki tujuan baru. Ia ingin membela rakyat bawah yang selalu tertindas oleh kekuasaan. Dengan bantuan Yasmin yang bekerja di bidang hukum dan juga Cok si binal yang kaya raya, dengan mudah Saman pergi meninggalkan Indonesia menuju New York. Ketika sampai di negara dan juga kota yang baru. Saman justru mengalami kegundahan yang baru. Benarkah yang sudah dilakukannya? bukankah seharusnya dirinya dekat dengan rakyat yang ingin dibelanya?

Dengan cermat kisah pun berpindah menuju kisah asmara Saman dan Yasmin. Gue kira, di New York, Saman bakal berjumpa dengan kisah lamanya Laila. Kenapa Yasmin? dia kan sudah bersuami?

Kesimpulan Gue

Beberapa review/resensi yang gue baca merasa --mungkin juga-- cukup terganggu dengan aroma seksualitas yang Ayu Utami hadirkan. Kalau buat gue sendiri sih, nggak tuh. Toh, novel ini tidak ditujukan untuk anak SD yang belum cukup umur apalagi logika untuk mencerna kisah yang dihamparkan. Justru gue berpikir kalau itu trik Ayu Utami agar novelnya nggak di-bredel-i habis-habisan yang nota bene saat itu Orde Baru sedang berkuasa. 

Namun semua itu kembali ke selera pembaca. Kalau pendapat gue sih, lu harus banget baca novel ini. Risetnya yang sangat mendalam baik soal tokoh, latar ataupun tempat cerita sungguh detail. Seakan-akan ketika membacanya lu bisa merasakan kehadiran atau pun luka yang dirasakan oleh para tokoh pembawa cerita.

Sayang buku ini hasil pinjaman dari seorang yang baik hati. Semoga nanti gue kesampaian untuk membelinya. Aamiiinnn... Hehe.


EmoticonEmoticon