12/19/2016

Limbah, si air mati yang meracuni ibukota.

Air Jakarta, sejak tahun 1997 tidak mengalami pertumbuhan dengan baik. Padahal, sudah 19 tahun berlalu. Seharusnya kini dia tampak seperti remaja putri yang cantik dan ranum. Namun sebaliknya, diam-diam kini ia menjadi racun yang siap membuat ibukota dan penduduknya menjadi pesakitan. Semua hal tersebut tidak lain karena ulah kita juga dalam memperlakukan air Jakarta. Lelaki paruh baya itu menatap satu per satu ke setiap para peserta. “Ada yang pernah kepikiran nggak, kemana perginya air bersih yang sudah kita pakai? Yang kita pakai untuk mencuci, mandi, dan juga buang air besar ataupun kecil?" Lelaki itu hanya tersenyum tipis, saat melihat para peserta hanya saling tatap. Workshop peduli air Jakarta pun dibuka.


Beliau bernama Erlan Hidayat, saat ini menjabat sebagai direktur utama PD PAM JAYA. Peserta workshop yang sebagaian besarnya adalah mahasiswa, lebih banyak diajak berdiskusi tentang keadaan air Jakarta saat ini. Pada tahun 1922 hingga diresmikan tahun 1977, awalnya PAM JAYA masih bisa mengambil air baku untuk dijadikan air bersih dari aliran sungai Ciliwung. Namun, semenjak pertumbuhan industri di sekitar aliran sungai, juga kontribusi yang aktif dari masyarakat dalam mengotori aliran sungai. Perlahan namun pasti, air sungai Ciliwung tidak lagi memenuhi baku mutu yang menjadi pra-syarat air baku.

Baca juga : Air bersih, kebutuhan pokok yang terabaikan.

Salah seorang peserta mengangkat tangannya untuk bertanya. “Lalu, dari mana pak, PAM JAYA mengambil air baku?” Asisten sorot membuka slide selanjutnya. Di layar pun terpampang sebuah data, 81% air baku sebagai bahan air yang akan diolah sebagai air bersih di ibukota berasal dari waduk Jatiluhur-Purwakarta. 15% didapat dari hasil membeli air curah PDAM kota Tangerang dan hanya 4% yang dapat diambil dari air Jakarta. “Dari fakta tersebut bisa kita ketahui secara bersama, bahwasannya ibukota Jakarta harus ditopang dari kota tetangga dalam hal penyediaan air bersih. Sementara itu, jumlah penduduk Jakarta setiap tahunnya terus bertambah.” Ucap Erlan Hidayat dengan wajah yang cukup serius.

Jakarta tak punya cukup air baku.
Mengapa hanya 4% yang bisa diolah dari air Jakarta? Tentu saja, tak sulit untuk menemukan jawabannya. Cukup melihat keseharian kita dalam memperlakukan air yang kita pakai. Masih banyak masyarakat kita yang membuang limbah rumah tangga ke sungai begitu saja. Dari air bekas cucian sampai air yang dipakai ketika buang air kecil ataupun besar. Sehingga menyebabkan sungai di jakarta menjadi hitam, berbau dan bisa saja beracun. Saat ini jumlah penduduk Jakarta sudah mencapai angka 10 juta. Bayangkan saja, jika manusia sebanyak itu buang air besar dalam satu kolam yang sama. Apa yang terjadi dengan air kolamnya?

Kadar pencemaran air sungai di Jakarta cukup tinggi. Pada tahun 2010 saja, menurut data Dinas Pekerjaan Umum (PU) jumlah unit air buangan dari buangan rumah tangga per orang per hari adalah 147 liter. Direktur utama yang baru saja diangkat itu menutup sesi pertama dengan sebuah pernyataan. “Saat ini kita sudah memasuki akhir tahun 2016, apakah kita mau seperti ini terus? Sudah saatnya kita peduli dengan air Jakarta.”

PAM JAYA terus berusaha menggenjot produksi air bersih untuk memenuhi kebutuhan penduduk Jakarta. Beberapa pengembangan dilakukan agar bisa memenuhi keperluan seluruh lapisan masyarakat. Namun, pekerjaan rumah belum usai sampai disana. "Mindset orang indonesia, mendapat air bersih itu wajar membayar. Membuang limbah itu gratis." Kata Dirut PD PAL JAYA, Dr. Subekti pada sesi kedua workshop ayo peduli air jakarta.

Materi tentang limbah, disampaikan oleh Dr. Subekti
PAL yang berasal dari kepanjangan Perusahaan Air Limbah menjadi salah satu solusi untuk mengatasi melimpahnya air jakarta yang sudah mejadi limbah. Namun, saat ini hanya baru ada satu instalasi pengolahan air limbah yang beroperasi. Yaitu, Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) yang berada di kawasan Setiabudi. Tentu saja, kondisi tersebut masih sangat jauh dari kata ideal untuk mengatasi banyaknya sumber air limbah yang ada di jakarta. Beberapa zona sudah dicanangkan untuk mulai dibangun IPAL baru. Salah satunya di TB Simatupang dan juga kawasan Thamrin.

Ada dua jenis air limbah yang banyak dihasilkan oleh masyarakat. Yaitu, air limbah dengan jenis Grey dan Black. Air limbah dengan jenis Grey adalah yang berupa, air bekas cuci pakaian, mandi buang air kecil dan sebagainya. Adapun jenis Black adalah feses yang dibuang ke septic tank. Untuk mulai membangun jaringan pengolahan air limbah yang ideal seharusnya ditanam pipa dari rumah warga yang nantinya bermuara di IPAL. Tentu saja pembangunan jaringan pipa IPAL adalah bentuk investasi jangka panjang untuk air jakarta. Dimana akan ada proses secara bertahap yang dilakukan untuk mewujudkannya.

Solusi yang bisa dilaksanakan dengan segera adalah melaksanakan kegiatan sedot tinja secara berkala. Jadi nantinya masyarakat juga akan diedukasi betapa pentingnya melakukan pengolahan limbah lebih lanjut untuk air Jakarta yang lebih baik. Memang, idealnya adalah menggunakan saluran perpipaan agar truk sedot tinja (yang seringkali dianggap berbau busuk) tidak mengganggu pemandangan ibukota. Namun apa daya, untuk membangun satu zona saja membutuhkan dana kurang lebih mencapai 68 trilyun rupiah. Ungkap direktur utama PD PAL JAYA.

Ibukota negara Indonesia, yaitu Jakarta. Sebenarnya sudah sangat tertinggal dengan negara tetangga dalam hal melakukan sewerage system. Hampir seluruh peserta workshop terdiam, asisten sorot kembali mengganti layar slide. “Sewerage system adalah suatu sistem pengelolaan air limbah mulai dari pengumpulan (sewer), pengolahan (treatment) sampai denga pembuangan akhir (disposal).” Jelas bapak Subekti lagi. Saat berganti layar slide, tampak perbandingan Indonesia dengan negara tetangga dalam hal penanganan air limbah. Dimana Indonesia baru hanya 10% saja menerapkan recycle pada air Jakarta.

Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga.
“Jadi apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk air Jakarta yang lebih baik?” Tanya salah seorang peserta. “Karena saya ini bekerja sebagai tukang sedot tinja, saya menawarkan untuk masyarakat berkontribusi dengan menjadi pelanggan sedot tinja terjadwal. Truk yang kami pakai sudah terhubung dengan GPS. Sehingga dapat kami pantau, jika mereka berbuat nakal dengan membuang tinja saudara-saudara sembarangan.” Jawab Dr. Subekti yang disambut tawa lepas oleh seluruh peserta.

Sebagai catatan akhir penutup acara dirut PD PAL JAYA meminta asisten sorot membuka slide selanjutnya. Sudah seharusnya sebuah kota besar, apalagi ibukota negara. Menerapkan program water recycle. Kenapa? Karena air adalah kehidupan. Dia akan terus ada, dan hanya berubah bentuk saja. Akankah kita sebagai manusia yang diberikan akal tidak mau berpikir walau sesaat? Jika saja program water recycle sudah benar-benar berjalan di ibukota kita. Kualitas hidup masyarakatnya dan juga lingkungannya pasti akan menjadi lebih baik. Ayo, sudah saatnya kita peduli air Jakarta.

Potensi air baku  kota Jakarta, jika water cycle dilaksanakan.

Profil Penulis.

Nama : M. Rizal Ghozi Haqqi
Tempat tinggal : Depok
Pekerjaan : Fasilitator program Sahabat Air dan Sanitasi
Email : ghozyrizal@gmail.com
No. hp : 085295855817

2 komentar

ngeri deh melihat kondisi kualitas air saat ini, air tanah juga banyak dieksploitasi, air hujan pun susah meresap karena daerah resapannya kurang

aku tuh gak kebayang, itu jakarta taun2 kedepan kondisi airnya kayak apa. air laut kali ntar disuling


EmoticonEmoticon