12/03/2016

Air bersih, kebutuhan pokok yang terabaikan.

Judul yang saya buat sepertinya memang tampak klise sekali. Tapi memang begitulah faktanya. Selain tubuh kita yang hampir 90% terdiri dari cairan. Kehidupan kita sehari-hari pun tak dapat jauh dari yang nama air. Terutama air bersih. Karena tidak mungkin, kita akan mandi dengan menggunakan air yang kotor/keruh? Atau mencuci pakaian, atau juga ketika kita memasak makanan atau mencuci sayuran. Bahkan sebuah fakta mengatakan, kalau kita mampu bertahan hidup tanpa makanan selama seminggu. Tapi tubuh kita akan segera lemas bila tak mengkonsumsi cairan selama kurang lebih 24 jam. Dengan fakta-fakta tersebut, bukankah sudah seharusnya kita masukkan air sebagai kebutuhan pokok?!


Mungkin, kita hanya baru merasakan sulitnya hanya ketika masalah itu sudah datang. Misal, pada suatu waktu tiba-tiba air keran yang biasanya mengalir di rumah saya mendadak mati. Tak ada setetes pun air yang mengalir. Selama seharian itu saya tidak bisa mandi, masak mie rebus ataupun bikin kopi. Karena tidak tahu kalau ada perbaikan pipa air di daerah saya. Padahal saya hanya tinggal di Depok, yang termasuk daerah pinggiran jakarta. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di ibukota, jika mengalami hal seperti saya? Dimana jumlah penduduknya lebih padat?

Dulu, sewaktu masih kecil saya sering menginap di rumah nenek yang tinggal di Tanjung Priuk. Entah mungkin karena letaknya yang tak jauh dari pantai. Air tanah disana terasa sedikit asin dan lengket kalau dipakai untuk mandi. Maka dari itu nenek saya tidak lagi memakai sumur bor. Namun, yang jadi permasalahan, sering kali air pipa yang menjadi satu-satunya harapan air bersih di rumah nenek saya sering kali bermasalah. Entah warnanya berubah menjadi kekuningan dan bau. Kadang pula banyak sekali terdapat butiran pasir. Kalau sudah begitu, abang penjual air bersih keliling yang kebanjiran pesanan. 


Bagi mereka yang tinggal di pedesaan ataupun yang masih bagus kondisi alamnya, air bersih tak menjadi masalah yang begitu besar. Tapi bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, air perpipaan menjadi satu-satunya tumpuan akan kebutuhan air bersih. Beberapa rumah bisa saja membuat sumur bor, tapi kebanyakan air tanah di daerah perkotaan sedikit banyaknya sudah mulai tercemar. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Tentunya dengan melakukan penghematan. Tapi masih sedikit sekali masyarakat perkotaan yang mau menyadarinya. Dengan tidak mengisi bak air sampai luber, adalah salah satu hal kecil yang sering kali kita lewatkan.

Hingga akhirnya saya tergabung ke sebuah organisasi yang memberikan edukasi kepada anak-anak tentang pentingnya menghemat air. Kalau tidak salah ingat, saya mulai bergabung sejak tahun 2014. Awalnya, saya seringkali merasa kikuk ketika harus berhadapan dengan anak-anak. Apalagi, harus mengajarkan tentang pentingnya menghemat air untuk kehidupan bersama. Pasalnya, saya sendiri masih sering melakukan kesalahan kecil yang tanpa disadari sudah membuang-buang air bersih begitu saja. Dari sana-lah, justru saya belajar lebih banyak dari anak-anak. Mereka sangat mengerti mana kegiatan yang baik dan buruk. Kita sebagai orang dewasa hanya perlu mengawal dan menemani mereka belajar. 


Nama organisasi tempat saya bekerja adalah FORKAMI (Forum Komunikasi Kualitas Air Minum Indonesia) adapun nama program yang dijalankan adalah Sahabat Air dan Sanitasi. Disana saya belajar banyak tentang pentingnya menghemat air dari pada memakainya secara sembarangan. Memang hampir 98% bumi terdiri air. Tapi air tersebut haruslah melalui proses panjang agar bisa kita gunakan. Belum lagi, keadaan sungai di perkotaan sangat tidak layak untuk langsung digunakan. Fakta tersebut sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat perkotaan. Nah, sejalan dengan kondisi tersebut, melakukan edukasi kepada anak adalah hal yang sangat tepat. Seperti sebuah kata pepatah, belajar di masa kecil bagaikan mengukir di atas batu. Sebaliknya, belajar di masa dewasa (walau mungkin masih bisa) bagaikan mengukir di atas air. 

Bertugas sebagai fasilitator, saya belajar untuk meng-edukasi lima anak dari setiap sekolah yang menjadi sasaran program. Ke-lima anak tersebut yang nantinya diharapkan akan menjadi agen-agen perubahan di sekolah, maupun di lingkungan rumahnya. Sekolah yang mejadi sasaran, adalah sekolah yang berada di daerah padat penduduk. Bahkan, ada beberapa sekolah yang posisinya berada tepat di pinggir sungai kota Jakarta yang hitam. Adapun teknik belajar yang dipakai cukup banyak. Tentu saja kami menghindari kebosanan anak, dengan menggunakan metode belajar seperti di kelasnya. Kami lebih banyak menggunakan sistem "terjun langsung ke lapangan" karena anak lebih mudah mengingat apa yang dia alami daripada yang di-dikte-kan. Salah satu kegiatan yang paling anak Sahabat Air senangi adalah kunjungan ke Instalasi Pengolahan Air. 


Di tempat Instalasi Pengolahan Air banyak sekali pengalaman dan juga pembelajaran yang didapat oleh anak-anak. Salah satu materi yang paling penting adalah anak-anak menjadi tahu kalau proses untuk menjadi air bersih itu sangatlah panjang dan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mulai dari penyedotan air sungai yang berwarna kecoklatan. Kemudian masuk ke kolam pengendapan, lalu dialirkan kembali ke sebuah kolam yang diberikan bahan kimia agar kuman yang tersisa dapat dibersihkan. Belum lagi proses panjang air bersih tersebut yang dialirkan melalui pipa-pipa ke rumah warga. Yang tentu saja, perawatan pipa-pipa tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Selain itu, anak Sahabat Air juga diajarkan untuk menghemat air menggunakan cara games atau juga melakukan survey lapangan. Games yang sering kali dipakai adalah menggunakan kartu jalur. Anak-anak lebih mudah memahami proses siklus air menggunakan kartu jalur yang mereka susun sendiri. Dengan begitu mereka juga mengetahui air mengalami sebuah proses yang tak sebentar. Air di lautan menguap menjadi titik air, kemudian terkumpul menjadi awan. Setelah terkumpul banyak, awan tersebut berubah menjadi awan mendung yang siap menurunkan kembali airnya. Tak selesai sampai disana, air hujan yang turun ada yang mengalir kembali ke lautan melalui sungai, dan juga ada yang terserap ke dalam tanah menjadi air tanah.


Adapun survey lapangan yang dilakukan adalah, anak-anak diajak untuk melihat langsung ke lingkungan di sekitar sekolahnya. Poin yang menjadi perhatian penting ketika melakukan survey adalah, bagaimana kondisi kebutuhan air bersih di sekolah. Anak Sahabat Air juga diajak untuk memeriksa, apakah ada keran air yang rusak. Karena, sedikit saja air yang terbuang, dampaknya sangat besar bagi lingkungan. Materi lainnya, tentu saja bagaimana anak-anak diajak untuk melakukan sikap hemat air. Mulai dari menggunakan segelas air ketika menggosok gigi, sampai menggunakan air bekas mencuci sayuran untuk menyiram tanaman.

Kegiatan Sahabat Air ini memang tidak langsung memberikan dampak yang secara signifikan bagi lingkungan. Setidaknya anak-anak yang sudah terpapar oleh program ini bisa terus mengingat materi tentang menghemat air dari pengalaman yang mereka dapatkan. Sayangnya, program Sahabat Air ini belum mencangkup seluruh daerah ibukota. Dimana masih banyak daerah padat penduduk yang mungkin saja belum ter-edukasi akan pentingnya menghemat air bagi kehidupan. Meskipun begitu, saya cukup bangga bisa ikut ke dalam organisasi ini. Dimana justru saya malah banyak belajar dari pada mengajarkan. Untuk mengetahui lebih jauh kegiatan Sahabat Air bisa mengunjungi akun facebook kami di Sani Sashi. Terima kasih.


Profil Penulis.

Nama : M. Rizal Ghozi Haqqi
Tempat tinggal : Depok
Pekerjaan : Fasilitator program Sahabat Air dan Sanitasi
Email : ghozyrizal@gmail.com
No. hp : 085295855817

14 komentar

Emang kita harus selalu menjaga kebersihan air, dan selalu berhemat...

memang kita harusnya kita menjaga sumber daya alam ini gan

betul sekali, karena (terutama) air bersih jumlahnya tak sebanyak air yang ada disekitar kita.

bener juga yah, nggak kbayang jg klo air bersih smpe gak ada. semangat bro dlam mensosialisasikan pentingnya air bersih

Wah salut.... tetep semangat gan mengedukasi para generasi muda...

Sip, bener banget... apalagi jumlah air bersih sangat terbatas.

Siaappp... thanks buat supportnya... :)

Harus terus semangat... untuk kehidupan yang lebih baik.

Bagus sekali programnya. Andai semua orang punya kesadaran untuk menghemat air sejak Dini, pasti air bersih di Jakarta bisa tersebar secara merata.

Dulu sebelum pasang PDAM aku juga beli air pakai galonan/ jerigen gtu :D
Skrng sih minum air mineral kalau air pam masih kusaring engan pure it hehe


EmoticonEmoticon