11/25/2016

25 hari di eropa : Perjalanan selalu menciptakan sebuah kisah.

Pertama kali mendengar om Aditya Gumay berkata kalau film itu dibuat hanya dengan 7 crew, gue jelas nggak percaya. Beberapa kali gue sering mengikuti proses syuting. Dan itu tidak sedikit crew yang bekerja di belakang layar bahkan untuk sebuah film pendek. Apalagi untuk ukuran karya sebuah film layar lebar. Yang lebih bikin nggak percayanya lagi, film itu dibuat ON THE SPOT. Dalam artian, proses pembuatan cerita, penentuan lokasi syuting, dan hal-hal yang lain ditentukan saat tim delegasi (pemain) sampai di negara tujuan. Kurang lebih begitulah yang dijelaskan oleh om Aditya Gumay yang bertindak sebagai sutradara dan om Adenin sebagai penulis skenario.
Dengan bermodalkan tiga orang kameramen dan juga satu orang soundman (yang gue ingat dari penjelasan om Adit) film ini pun dibuat. Sebelum film diputar, om Adit juga menjelaskan kalau film ini dibuat untuk mengisi kekosongan kegiatan para delegasi yang berangkat ke eropa. Kereeennn, produktif banget ya. Nggak cuma tampil menari di depan penonton masyarakat asing, mereka juga berkarya untuk ditonton di masyarakat negeri sendiri.


Sinopsis
Film 25 Hari di Eropa akan menceritakan tentang perjalanan 17 orang anak remaja Indonesia melintasi 9 kota di 4 negara Eropa yaitu Belanda, Prancis, Swiss & Jerman untuk memperkenalkan budaya Indonesia melalui tari, musik dan lagu.

Dalam perjalanan tersebut berbagai konflik terjadi, masalah cinta remaja, persahabatan dan persoalan keluarga melingkupi mereka, film ini akan dikemas dalam bentuk ringan khas film hiburan remaja, namun tetap mengedepankan semangat nasionalisme membuat film ini bukan cuma tontonan yang memiliki nilai edukasi tinggi.

Yap, dari sinopsisnya saja kita bisa tau. Kalau film ini ceritanya sangat ringan sekali. Meskipun begitu, penampilan para pemain hasil didikan sanggar ananda yang notabene masih belum terkenal namanya di jajaran entertrainer Indonesia, tidak bisa dipandang sebelah mata. Kalau pendapat gue pribadi, di awal film masih terasa ke-kaku-an acting dari para pemain. Tapi semakin masuk ke dalam cerita, para pemain ini tampak semakin menikmati perannya. Ini membuktikan hasil lulusan dari sanggar ananda yang juga dipimpin oleh om Adit nggak main-main hasilnya.


Selama menonton film ini gue selalu berkata di dalam hati. “Ah, masa sih, film ini diarahin sama si sutradara? Mereka pakai skenario? Tapi kok kayak beneran dialamin sama pemainnya? Hahahaha”. Begitulah, gue sendiri bingung, ini film dokumenter perjalanan mereka atau memang sebuah film yang memakai skenario sebagai panduannya.

Minus (-)
Awalnya gue agak skeptis, apa iya film yang dibuat secara on the spot, dan juga crew yang terbatas hasilnya bisa bagus? Tapi setelah menonton sampai akhir film, gue berani kasih tujuh jempol untuk film 25 hari di eropa. Mungkin, karena hanya banyaknya tokoh, jadi ada beberapa cerita yang nggak tuntas. Salah satunya adalah, bagaimana kelanjutan sikap orang tua David kepadanya?

Plus (+)
Film ini membuka wawasan yang amatlah luas. Kabar baiknya lagi, om Adit (katanya) tidak memutarkan film ini secara massal di bioskop. Tapi membuka kesempatan lebar untuk nonton bareng bersama para pelajar, mahasiswa maupun komunitas anak muda seluruh Indonesia.

1 komentar so far

yah sayang banget gak diputar di bioskop. padahal pengen nonton. kayaknya seru tuh


EmoticonEmoticon