9/30/2016

Ghozz in Wondercommunity

Komunitas bisa memiliki banyak arti yang berbeda bagi setiap orang. Pada dasarnya komunitas memiliki arti sebuah wadah tempat berkumpulnya beberapa orang yang memiliki satu kesamaan atau kesukaan. Mengapa berbeda? Karena ketika kita sudah memasuki sebuah komunitas, bisa jadi niatan awal untuk bergabung ke dalam komunitas tersebut, berubah ketika sudah berada di dalamnya. Bisa saja yang pada awalnya berniat hanya untuk belajar, atau memperbanyak pertemanan, berubah menjadi mencari pasangan. Khususnya untuk mereka yang masih sendiri. Ya, hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri. Seperti yang saya alami di sebuah komunitas kepenulisan yang cukup besar di indonesia ini, yaitu, Forum Lingkar Pena

Awal pertama saya mendengar nama komunitas ini ketika saya masih berada di pondok pesantren. Ya, ketika itu yang saya kenal hanya baru nama Afifah Afra dengan bukunya Javasche Orange, dan juga cerpen karya Asma Nadia. Yang saya tahu waktu itu, FLP adalah sebuah komunitas kepenulisan yang bernafas keagamaan. Tapi karya-karyanya dari anggotanya sendiri tidak melulu berbicara tentang agama. Ini sangat se-pemikiran dengan saya, yang walaupun berlatar pendidikan pondok pesantren tapi tidak terlalu menyukai kegiatan yang beraroma ke-agama-an. Karena bagi saya agama adalah hak privasi bagi setiap orang.

Kalau tidak salah ingat, saya akhirnya bergabung dengan komunitas ini di tahun 2010. Semua bermula ketika saya merasa bingung dan bosan, karena merasa hanya melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Ya, saat itu saya baru saja menyelesaikan pendidikan perkantoran selama satu tahun dan juga baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan. Merasa bosan dengan apa yang dilakukan sehari-hari, saya mencoba mencari info tentang keberadaan komunitas kepenulisan tersebut. Karena saya bertempat tinggal di Cileungsi, awalnya saya menemukan yang terdekat yaitu di daerah Gunung Putri. Tapi setelah bertanya-tanya, rupanya cabang Gunung Putri sudah tidak ada, dan dipindah kepengurusannya ke Bogor. Merasa kalau ke Bogor terlalu jauh, tanpa disengaja saya menemukan kalau cabang Depok sedang membuka penerimaan anggota baru.

Jarak antara Cileungsi-Depok sendiri tidak bisa dibilang dekat. Tapi karena rasa ingin untuk bergabung yang cukup besar akhirnya saya mendatangi kesekretariatan FLP cabang Depok yang saat itu berada di Jalan Keadilan Raya. Kebetulan juga ada bibi yang tinggal di Depok yang bisa dimintai tolong untuk menunjukkan jalan kesana. Karena pada saat itu saya benar-benar belum mengenal kota Depok sama sekali. Pada saat itu cukup banyak yang ingin mendaftar sebagai anggota. Dan banyak juga pengurus yang terlihat asyik saling bercengkrama satu sama lain, bahkan saya pun ikut terbawa suasana yang ceria. Dalam pikiran saya pun terlintas, sepertinya, ini grup yang sangat asyik.
ikutan lomba 'aku cinta majalah Story' dan menang!!!
Di awal pertemuan tidak ada yang terlalu spesial. Seperti lelaki kebanyakan, saya melirik satu per satu anggota perempuannya. Oh si ini cantik, oh si itu boleh juga. Hanya sebatas itu, tidak lebih. Seiring berjalan waktu, karena sering bertemu dan bertukar pikiran, tanpa terasa ada rasa yang ikut mewarnai kebersamaan kami. Sebelum saya mulai untuk bercerita kisah asmara selama di komunitas ini, banyak hal menakjubkan yang saya dapatkan selama menjadi anggota komunitas ini.

Nama Gola Gong saat itu bagi saya adalah nama penulis besar yang saya kagumi karya-karyanya. Saya baru tahu kalau beliau hanya memiliki satu tangan untuk menciptakan karya-karyanya yang cukup banyak. Waktu itu saya mengikuti kegiatan kunjungan ke Rumah Dunia yang dibangun oleh Gola Gong di daerah Banten. Pada awalnya saya hanya ikut-ikutan, karena memang tidak tahu mau melakukan apa untuk mengisi waktu liburan. Yang saya dapatkan justru pengalaman yang tak terlupakan sampai saat ini. Bertemu dengan mas Gola Gongnya secara langsung, dan bagaimana perjuangan beliau untuk membangun Rumah Dunia, sebuah tempat yang sungguh menginspirasi.

Selain itu ada kegiatan lain yang belum bisa saya lupakan sampai saat ini. Yaitu, berbincang dengan Benny Arnas yang saat itu sedang naik daun. Benny Arnas juga seorang anggota FLP cabang Lubuk Linggau. Beliau penulis yang bernafaskan aroma kedaerahan. Yang membuat saya merasa terinspirasi adalah ketika beliau bercerita bagaimana perjuangannya untuk bisa menembus penerbit nasional. Berapa karya dalam sehari yang beliau ciptakan. Dan juga berapa banyak penolakan yang harus beliau terima. Saya lupa cerita secara persisnya, yang saya ingat beliau mendapatkan undangan yang cukup prestisius, yaitu diundang ke Ubud Writers Festival sebagai penulis daerah terbaik kalau tidak salah. Wow, sebuah acara yang sangat besar bagi para penulis. Dan saat itu juga saya mengimpikan, mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut, walau entah bagaimana caranya.

Ada hal lain yang membuat saya begitu mencintai komunitas kepenulisan ini selain kisah asmara yang saya dapatkan. Yaitu, kekeluargaannya. Karena saya termasuk orang yang mudah membaur, dengan cepat saya mendapat teman-teman baru termasuk para senior. Entah bagaimana mulanya, kami sudah membentuk sebuah geng rusuh. Awalnya sih dari saling komentar di facebook, sampai akhirnya saling pamer karya, hingga jalan-jalan ke keluar kota untuk menghadiri undangan salah satu anggota yang katanya berakting di film ayat-ayat cinta. Sungguh sebuah kenangan yang tak terlupakan.
jalan-jalan ke acara pernikahan Mas Furqon di Anyer
Baiklah, sebagai penutup, izinkan saya bercerita sebuah kisah indah yang semuanya bermula dari komunitas yang luar biasa ini. Ya, saya bertemu dengan dia yang kini menjadi pendamping hidup di FLP. Pada awalnya saya lebih tertarik dengan perempuan yang lain di banding dia. Sayang sekali, saya tidak satu kelompok dengan perempuan yang saya sukai itu. Justru saya malah satu kelompok dengan dia. Kalau tidak salah ingat proyek kelompok kami pawa waktu itu adalah membuat sebuah cerita pendek secara estafet. Betul, seperti yang kalian pikirkan, tugas membuat ceritanya nggak selesai, justru malah cerita lain yang tercipta dengan indahnya.

Bagian yang paling menyebalkan adalah, dia menjalani mata kuliah jurusan sastra. Tapi justru hasil karya saya yang seringkali di copy-paste secara utuh untuk tugas-tugas mata kuliahnya. Saya tak lupa, ketika dengan polosnya dia bercerita mendapat nilai A+ karena memakai karya saya untuk tugas kuliahnya, dan juga pujian dari dosennya. Semenjak itu saya minta royalti setiap dia meminta tolong untuk diperbaiki hasil karyanya. Namun saya hanya mau dibayar nanti, dengan ucapan ijab kabul dengan ayahnya. Dia adalah Ai Zakiyah, angkatan Sembilan Forum Lingkar Pena Depok.
Aku dan Dirinya... (^_^)
Mungkin hanya sekian yang bisa diceritakan antara saya dan Forum Lingkar Pena. Masih banyak cerita yang luput dari sepenggalan kisah ini. Dan masih banyak juga kisah yang saat ini masih saya jalin dengan komunitas tersebut. Begitulah arti komunitas bernama Forum Lingkar Pena yang ada di pikiran dan hati saya. Ingin tahu lebih banyak? silahkan intip ke www.flp.or.id

1 komentar so far

jadi inget masa-masa itu, asem manis jadi satu.
http://ayanahenna.blogspot.co.id/


EmoticonEmoticon